Selasa, 26 Februari 2013

REVOLUSI VESPA GEMBEL

Hati-hati, revolusi sedang berlangsung di berbagai kota yang ada di Indonesia. Hah….!  Betul, tetapi revolusi “Vespa Gembel”. Terbentuknya grup-grup Vespa Gembel di berbagai kota, bukan menunjukkan kalau pemiliknya gembel, tetapi hanya merupakan sikap mental, melawan kemapanan. Memang kalau kita amati, diam-diam sedang terjadi revolusi di berbagai kota melawan kemapanan. Misalnya munculnya kelompok anak-anak “Punk”, lalu Vespa Gembel, Geng Motor  dan entah nanti apa lagi.

Ingatan jadi melayang pada era tahun 70 sampai 80-an. Dunia dilanda komunitas Hipies, yang hidup menggelandang di kota-kota besar, bak masyarakat Gypsi. Hidup di tenda-tenda di sembarang tempat, mengcuhkan semua aturan, hidup bebas, termasuk free-sex, hanya untuk melawan sistem yang telah ada: kemapanan! Namun dengan perjalanan sang waktu, mereka hilang dengan sendirinya.

Nah, apakah munculnya anak-anak Punk dan kelompok Vespa Gembel juga meniru seperti itu? “Ya, kami sebagai komunitas juga butuh diperhatikan oleh masyarakat kita yang semakin acuh tak acuh dan hanya mengaggungkan kelompoknya sendiri saja. Di luar kelompok mereka dianggap salah, bahkan diseblak,” tutur Sutarno (28) penduduk Bongsari, Semarang, Jawa Tengah, yang bangga dengan Vespa Gembelnya dan tergabung dalam “Scooter Butut Club”.

Pernyataan itu ada benarnya juga. Ketika mereka melintas di jalan raya dengan Vespa Gembelnya, semua mata tertuju pada dirinya. Ada rasa bangga, dan sepertinya eksitensinya mereka diakui masyarakat. Inilah salah satu bentuk revolusi melawan kemapanan. Disamping itu juga ada unsur kreativitas, urakan (meminjam istilahnya WS Rendra), dan tanpa aturan.

Motor vespa, atau yang dulu dikenal dengan sebutan scooter, yang sudah tua dan teronggok sia-sia, dirubah penampilannya oleh mereka. Kadang dikerjakan sendiri dalam modivikasinya, tetapi banyak juga yang menggunakan jasa bengkel setempat. Setelah disulap sesuai selera, vespa itu ada yang diselubungi daun, jala, ditempeli kaleng-keleng bekas, di depannya ditempelkan tengkorak kepala hewan bertanduk, dan lain-lain. Pokoknya, tampilannya dibuat ancur-ancuran. Karena itulah disebut sebagai vespa gembel, hasil modifikasi para penggemarnya.

Begitu melihat vespa yang mereka kendarai, terlihat beda dengan tampilan vespa pada umumnya. Ada yang bodynya dibuat pendek banget, malahan sebaliknya ada yang dibuat memanjang bak ular naga. Tampilannya jadi aneh. Komunitas Vespa Gembel, ada yang menyebut diri “kelompok motor nyentrik”, atau “aliran vespa ekstrim” atau ada pula yang menamakan “komunitas vespa butut”. Sementara orang luar mengenalnya sebagai Vespa Gembel.

Tampilan sengaja dibikin hancur lebur, kayak rongsokan. Hanya mesin yang performanya dibikin bagus. Dari mulai dudukan toilet, angkoran sapi, sampai binatang yang sudah diawetkan dengan dair keras, bisa ikut menghiasi. Singkat kata, tak ada batasan. Terserah imajinasi yang punya vespa. Termasuk modifikasi, ukuran panjang vespa.

Ngak tau kebetulan atau bukan, tampilan vespa yang berkesan urakan tapi dengan mesin yang siap buat dibawa jalan jauh, seperti mencerminkan kepribadian para penggemarnya, yang terkesan cuek dan bebas dari aturan. Namun didalam hatinya sangat menjunjung persahabatan. Mereka seperti sang pengembara dalam film “ Mad Max”, mengembara dengan vespa kesayangan dari kota ke kota, adalah salah satu wujud betapa vespa menjadikan hidup mereka penuh warna. Dalam perjalanan itu juga, solidaritas yang ada di antara sesama pengguna vespa nyentrik itu, bisa terwujud. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar